Ketika Hujan Menjadi Asam

Padang
Senin, 13 desember 2010.
21.03 WIB


Salah jika kalian mengira Ini tentang Reno, bahkan akan sangat menggelikan seandainya kalian berpikir ini tentang Lenvi.
Bukan. Ini bukan tentang mereka. Ini tentang aku, aku yang merealisasikan kehidupanku lewat hujan.
Kehidupan yang memang tidak jauh dari kisah-kisah yang aku ceritakan. Apalagi kalau bukan tentang cinta?
Cinta manusia biasa yang bermimpi mengalahkan "Dewa".
Agak kasar jika aku menggunakan kata "Mengalahkan", aku hanya bermaksud menggantikan posisi "Dewa" di hati wanita yang aku anggap "Dewi".

Terlalu muluk jika kalian berpikir ini adalah curhatan remaja labil yang sedang membara cinta. Namun bodoh jika disanggah.
Ini memang hamparan perasaanku, namun tidak akan ku akui sebagai Diary yang kentara tak berujung. Tentang aku yang ingin memiliki sang "Dewi"

Jangan ditertawakan. tidak salah jika aku ingin mengalahkan "Dewa". Ya walau ku akui "Dewa" memang sarat akan kelebihan, wanita mana yang akan menolak sang "Dewa". Aku mungkin sudah lama putus asa jika aku berprinsip seperti itu. Percayalah, sang "Dewi" tidak pernah mencari kesempurnaan, bukan masalah apa aku sebaik "Dewa" atau tidak, karna aku punya satu hal yang bahkan tidak dimiliki sang "Dewa". Yaitu Cinta yang luar biasa.

Sadarnya, aku tahu hal itu dapat kulakukan jika sang "Dewi" juga menginginkan aku menjadi pujaannya.
Namun, seperti kebanyakan kisah cinta yang kalian rasakan, sangat sulit.

Aku bahkan tidak pernah berharap "Dewi" mencintaiku. Percaya atau tidak. aku belum meminta hal itu di setiap doa.
Karena memang keinginanku hanya satu, yaitu agar aku selalu mencintai "Dewi" dengan tulus disepanjang umurku.
Dan memang tuhan adalah Dzat yang maha mendengar, belum pernah aku merasakan pudarnya cinta dan kasih sayangku kepada wanita itu. Wanita yang sampai sekarang bahkan belum kutemui kekurangannya. Ya, nyaris sempurna. PERFECTO.

Ah tuhan. Biarkan aku mencintainya dengan tulus dan ikhlas. Aku tidak akan menuntut agar engkau membuatnya jatuh cinta kepadaku. Cukup kau jaga perasaanku ini padanya, dan itu akan sangat membahagiakanku. Karena Kau yang maha tahu bagaimana aku bersyukur bisa mencintainya.

Sungguh kau membuatku tergila. "Dewi" yang InsyaAllah akan selalu kucinta. Amin.

Posted by
Ranggi Suginda

More

Hujan #4

Buriai, Mentawai
16.48 WIB

Hujan itu turun dengan lebatnya, seolah ingin kembali melenyapkan mereka, melenyapkan hati-hati yang rapuh oleh air. Mengingatkanku pada hujan-hujan yang lalu. Ah Sangat deras sejak siang tadi.
Beberapa pemuka adat tampak sibuk di sekitar aula utama, seorang pawang juga asyik melontarkan mantranya sambil mengibaskan dedaunan yang entah apa namanya.
berdasarkan informasi yang kuterima, hari ini akan di laksanakan upacara 'Pangureikan'. Upacara khas mentawai yang tujuannya untuk menolak bala dan mengharapkan kebaikan dari 'Saukkuita'.
Saukkuita yang sejak lama telah menemani masyarakat Mentawai. Dikenal sebagai dewa penjaga.
Tapi, dimana Sang Saukkuita saat Ombak itu menerjang mentawai beberapa Minggu yang lalu.

sejak pagi para relawan memang telah di arahkan ke Buriai. sebuah kota kecil di pagai selatan yang bisa di bilang merupakan satu-satunya kota di Mentawai yang mengingatkanku pada kotaku. Jauh dari kesan pedalaman. Setidaknya jika dibandingkan dengan daerah lain.

"jangan berdiri disini, kau bisa mengganggu pria-pria tua itu" saran pak Yahya menunjuk pemuka agama yang sejak tadi melirik sinis padaku. "mereka mudah tersinggung".

"bapak sendiri kenapa disini?" tanyaku setelah agak menjauhkan diri dari aula beratap ijuk tersebut.

"sejak dulu aku memang di undang datang kesini" Jawabnya memperlihatkan sebuah undangan yang terbuat dari daun lebar yang diukir dengan tulisan-tulisan berwarna kelabu gelap. Sedikit membuatku kagum mengingat bagaimana mereka menggunakan daun sebagai pengganti kertas.
"dimana teman-temanmu?"

"entahlah, tadi aku pergi duluan"

"oh ya? Kenapa kau tidak pergi dengan gadis itu?"

"ngg.. Aku.."

"woy Yahya, apo kaba? Duduak siko ha" seorang pria tua tiba-tiba berteriak ke arah kami, sontak memotong perkataanku

"iyo, sabanta" jawab pak Yahya dengan logat Minangnya yang selalu membuat aku berdecak.
"ayo kita kesana" ajaknya lagi.

"tapi aku.."

"sudahlah tidak apa-apa" ucapannya meyakinkanku, memang pak Yahya sudah seperti ayah bagiku, selalu membuat nyaman. Walau pria-pria berkumis lebat itu masih memasang wajah garang padaku.

Kami berjalan pelan ke arah bapak yang memanggil tadi, aku berjalan lebih pelan di belakang pak Yahya. sedikit bergidik jika tahu nantinya aku akan berhadapan langsung dengan mereka. Di bayanganku, mereka akan menarikku, memotong jari-jariku, memenggal kepalaku, kemudian melemparnya kelaut. Walaupun sadar tentu hal itu tidak mungkin mereka lakukan.

"hahaha, apo kaba? Baa kok ndak nampak di tok'awo dulu?" tanya pria itu terlihat akrab.

"yo tu awak di rumah senyo" jawab pak Yahya tak kalah akrabnya. Walau tidak begitu mengerti, namun dari cara mereka berbincang aku yakin mereka teman lama.

"bajagoan jo rumah tu?" mendadak suasana menjadi serius.

selanjutnya percakapan mereka berlanjut tanpa ada yang ku mengerti sedikitpun, seolah menutup celah bagiku untuk menguping pembicaraan mereka.

"itu yang jadi sikerei kini" pria tua yang baru saja kuketahui bernama Abdul Majo itu menunjuk sosok di balik kerudung berwarna hijau tua.

"anak itu? Tapi itu kan padusi?" nada bicara pak Yahya agak berubah.

"itu yang dianjurkan angku hamid" hey aku mengerti kalimat ini. Merasa punya kesempatan untuk masuk dalam topik pembicaraan, langsung saja dengan sedikit berbisik aku bertanya pada Pak Yahya.

"di anjurkan apa pak?"

"anak itu yang di anjurkan untuk menjadi sikerei kali ini?"

"sikerei? Apa itu sikerei?"

"sikerei itu orang yang akan melakukan pengorbanan untuk dewa Saukkuita, nanti tubuhnya akan dirasuki roh Saukkuita" pria tua itu menjelaskan, rupanya ia mendengar pertanyaanku.

"lalu apa yang terjadi setelah ia dirasuki pak?" tanyaku penuh selidiki.

"tergantung Saukkuita, apakah tubuhnya akan di bawa, atau dibebaskan"

"dibawa?" tanyaku menekankan nada.

"mati" sambung Pak Yahya pendek. Tapi mampu mengunci mulutku untuk tidak bertanya lagi.
Aku menatap jauh pada sosok yang katanya akan di jadikan sikerei.
Entah kenapa seolah aku mengenal sosok di balik kerudung itu, walau wajahnya tertutup rapat dengan kain tipis yang juga berwarna hijau. Namun aku yakin dari balik sana ia juga tengah memandangku. Memandang dengan mata sayu nya, pandangan yang dulu pernah kuterima. Tapi dimana?
Ah kenapa aku begitu yakin ia melirik ke arahku?

"kau kenapa Reno?"

"ah tidak apa-apa pak" aku tergugup kedapatan sedikit bermenung.
"siapa nama calon sikerei itu pak?" tanyaku pada pak Majo.

"nama anak itu Reta"

"apa kau mengenalnya?" tanya pak Yahya lagi

"entahlah pak, namanya terdengar asing. Tapi sepertinya sejak tadi ia melihat ke arah kita"

"hahaha itu tidak mungkin" pak Majo reflek tertawa.
"dia buta" sambungnya.

"buta?" tertegun, aku spontan melirik ke arah sikerei yang sudah melepas kerudung yang menutupi wajahnya.
"itu anak buta yang pernah kulihat dulu"


---------

Posted by
Ranggi Suginda

More

Hujan #3

Tok'awo, Mentawai
06.12

Samar-samar mulai terdengar keramaian. Ah pagi. Kutatap jam di lenganku. Jam 6.
Louis?!! Ah sial. Hujan pun dia akan tetap menghilang ke tempat rahasianya.
Rencanaku sepertinya tidak bisa berjalan sekarang. Simpel saja, firasatku bilang, setiap pagi pasti Louis bertandang ke barak pengungsian seberang, menggoda gadis-gadis yang ada di sana. Huh dasar playboy. Pantas saja ia tidak mau memberitahu dimana tempat rahasianya.
Sedikit malas, aku mulai bergerak menuju luar tenda, tanah agak becek. Sepertinya hujan turun dari tadi malam.

Gemercik hujan yang di tampung dengan ember kecil menjadi salah satu persedian air bersih kami.
Ah itu Louis!
Kurang jelas memang, tapi aku tahu itu Louis yang sedang mengendap-endap masuk ke dalam barak penyimpanan bahan makanan.
tentu saja, aku akan memperlihatkan ini pada Lenvi. Dan.. Louis akan kalah telak.

Sebelum niatan itu sempat terealisasi, Kuurungkan langkahku.
Pasti masih ada keburukan Louis yang bisa kudapat hari ini. Terlebih aku masih penasaran dengan tempat rahasianya.
aku mengendap-endap di balik pepohonan yang untungnya lumayan rimbun. Sedapat mungkin menjaga jarak agar Louis tidak merasakan kehadiranku.

Lumayan jauh. Sepengetahuanku jalanan ini mengarah ke barat. Ke tempat yang paling parah terkena tsunami, yang sekaligus menjadi tempat dimana paling banyak pengungsi perempuannya. Setidaknya itu yang kudengar.

Ah Louis berhenti. Masuk ke dalam rimbunan semak belukar yang menutupi garis pantai sejauh beberapa kilometer.
aku berdiam beberapa menit. Menunggu saat yang pas untuk menangkap basah Louis. Kamera handphone, kurasa cukup untuk mencetak bukti-bukti kongkret yang akan mendakwa Louis.
Dari jauh sedikit kudengar nafas seseorang. Terengah.
ah lelaki kurang ajar! Aku menyeruak masuk.
"DASAR PRIA BRENGS....." belum sempat aku menghujat.

"hey apa yang kau lakukan disana? Menonton aku yang sedang kesusahan?" Dongkol Louis yang menyadari kehadiranku. dengan nafas sedikit tersenggal.

"Louis.. Apa yang kau lakukan dengan... Sapi?" tanyaku heran.

"sapi ini.. Uhh tidak mau di ikat" jawabnya sambil melempar sebuah tali ke arahku. "bantu aku menariknya"

*

Hujan masih belum berhenti. Tidak selebat tadi memang. binatang besar itu sudah sedikit tenang setelah kakinya diikatkan pada sebuah pohon besar yang masih berdiri kokoh.

"apa yang kau lakukan dengan sapi itu Louis?"

"aku menemukannya saat kita sibuk mencari korban hilang dua minggu lalu" jawabnya sambil sedikit mengusap punggung si sapi. "saat itu keadaannya lemah"

"lalu?"

"aku memberinya susu"

"kau menyusui seekor sapi?" dahiku berkerut.

"tentu saja tidak, bodoh"

"jangan bilang kau menyuruh seorang pengungsi wanita untuk menyusukan sapi ini?"

"aku memberinya susu kaleng"

"susu kaleng?" dahiku makin berkerut.

"ya. Dan lihat betapa lincahnya dia sekarang" Louis tersenyum.

"Jadi ini yang kau...?"

"yah kalau sudah ketahuan mau bagaimana. Inilah tempat rahasiaku. Setiap hari aku disini. Memberikan susu pada tomo" jawabnya menyebut nama yang ia berikan pada sapi itu.

"tapi.. Aku pikir kau.." shit. Ada perasaan bersalah disini.

"kau pikir aku apa?" tatap Louis menusuk.

"bukan begitu. Maksudku. Aku melihatmu menghilang setiap pagi. Dan aku mendapatimu mengendap-endap kedalam barak makanan" jawabku memberi penjelasan.

"hahaha" Louis tertawa lebar. "petugas-petugas itu tidak akan membiarkanku memberi minum pada seekor sapi"


Ya tuhan. Hukum aku. apa yang telah kulakukan? Mencurigai Louis?
Hey sudah berapa lama aku mengenal Louis? Umpatku lebih pada diri sendiri.
Aku hanya bisa terdiam. Takut untuk berbicara. Takut jika Louis tahu bahwa selama ini aku telah berprasanka buruk padanya.
Aku hanya duduk diam, mengarah ke pantai. Bisu. Memandangi ombak.

"kulihat akhir-akhir ini kau suka memperhatikan laut" Louis duduk tepat disebelahku. "rasanya tidak mungkin ya. Laut ini yang telah meluluhlantakan semua"

"Louis"

"ya?"

"pak Yahya mengatakan sesuatu padaku."

"oh ya? Apa katanya?"

"sahabat itu seperti mata kail. punya sisi yang runcing, tajam, dan bisa menusuk ikan kapan saja. Lalu ada sisi lain, yang sama sekali tidak berbahaya"

"begitukah? Hmm kalau begitu aku adalah sisi yang tajam" tutur Louis. "dan kau sisi yang satu lagi" sambungnya melirik ke arahku.

"lalu siapa yang jadi ikannya?" aku membalas tatapan Louis.

"entahlah. Mungkin Lenvi. Lihatlah bagaimana aku berhasil memancingnya" jawabnya agak tertawa geli.

"kurasa bukan begitu" aku melengos. Lagi-lagi ke arah laut. "kau adalah sisi yang tidak berbahaya. Aku sisi yang tajam"

"lalu siapa yang jadi ikannya?" Louis meniru pertanyaanku.

"belum ada. Aku hanya sebuah kail yang sampai saat ini belum berhasil mendapatkan ikannya. Bahkan aku sudah terlalu berkarat"

"Reno. Kau hanya sedang berapa di arus yang deras. Terkadang ikan tidak suka itu" Louis menepuk pundakku.

"terima kasih Louis"

"sudahlah, jika kau ingin berterima kasih, bantu aku membawa sapi ini kerumah pak Yahya" pinta Louis.

"buat apa?"

"hey apa kau lupa. Sebentar lagi hari raya qurban. pak Yahya pasti akan senang mendapat sapi ini"

"jadi.. Selama ini kau merawat sapi itu agar pak Yahya bisa menikmati hari raya qurban"

Ia tidak menjawab. Sudah terlalu sibuk dengan sapinya. Dia kelihatan begitu bahagia. Apa yang dibayangkannya? Tentu saja ia sedang membayangkan bagaimana girangnya pak Yahya menerima sapi ini.

"ayo" teriaknya padaku.

"eh,, iya." aku berlari. Sedapat mungkin membantu Louis. Sahabatku. Benar. Dia sahabatku. Aku tersenyum saat Louis memperhatikan gerak-gerikku.

"apa yang kau tertawakan?" kali ini dahinya yang berkerut.

"tidak. Hanya saja.. Ah lupakan"

"kau semakin aneh. Oh iya. Tadi malam aku sempat bilang pada Lenvi, kalau kau ingin bicara dengannya malam ini"

"hey. Tapi malam ini aku ada tugas jaga"

"sudahlah. Jangan kecewakan dia, kau tidak ingin melepas ikan yang mendekati mata kailmu bukan?" Louis terus menggoda. Benar, dia tahu bahwa aku menyukai Lenvi. Aku mulai menarik tali yang terikat pada leher sapi. Sesaat sebelumnya ku sempatkan diriku melihat jauh ke laut yang semakin indah. Tentu saja, karena Langit yang juga mulai cerah.

------


Labuah dalam. Mentawai
11.48

lama hujan tak turun di Mentawai. Sekarang pun hanya gerimis kecil, namun ku sempatkan menulis agar aku dapat mengabarkan sesuatu pada kalian.

Tahukah? Beberapa hari yang lalu aku akhirnya bisa bercerita panjang lebar dengan Lenvi. Sungguh membahagiakan.
Ingin aku bercerita bagaimana menariknya Lenvi saat berbicara.
Namun, ada hal yang lebih penting sekarang.

Ya. Hari ini, idul adha.
Aku, Louis, Pak Yahya, dan beberapa penduduk lain telah selesai melaksanakan sholat id beberapa jam yang lalu. Sebagian akan melaksanakan besok.
Lebaran yang tidak meriah memang. Terlebih kita sama-sama mengetahui bahwa penduduk mentawai memang mayoritas non-Muslim.
Tapi tak apa. Ada kebahagiaan lebih saat kami merayakan bersama. Bukan karena jauh dr keluarga, tetapi justru karena kami mendapat keluarga baru.

Sapi kecil yang kami -tepatnya Louis- pelihara sejak beberapa minggu lalu, telah disiapkan untuk menjadi sapi qurban. Hanya satu sapi dan satu kambing pemberian warga. Tidak banyak, tapi rasanya cukup mengingat jumlah kami yang juga tak begitu banyak.

"mana Lenvi?" tanya Louis mengejutkanku.

"entahlah, dia bilang ingin ke barak utama"
"ada apa?" sambungku.

"hey jangan mencurigaiku begitu" Louis sinis

"bukan, maksudku apa perlu aku panggilkan?" memang bukan maksudku untuk mencurigainya.

"aku hanya ingin dia menyiapkan beberapa peralatan karena sebentar lagi kita akan memotong qurban"

"baik, aku panggilkan"

Bukan tugas berat. Lapangan Labuah dalam memang tidak terlalu jauh dari barak utama, terlebih untuk memanggil Lenvi.

Belum jauh aku berjalan, aku melihat sesuatu dari celah pepohonan yang menutupi jalan.
"hey?!" aku cukup tertegun setelah yakin bahwa, "itu Lenvi".

Tidak ingin mengganggu tentunya, aku sedikit beringsut menuju pohon yang cukup besar. Menyembunyikan Tubuhku, dan sekaligus mengintip apa yang dilakukan Lenvi.

namun, ia hanya diam, tangannya terlihat dilingkarkan ke dada. Mengepal.
Ingin aku menghampiri, tetapi sepercik air mata membuatku ragu. apa yang ia tangiskan?

"hampiri saja" sebuah suara berkelebat kencang di balik daun telingaku.

"Louis, kenapa kau mengikutiku?"

"hey kau tidak kembali untuk waktu yang cukup lama. Wajar saja aku menyusul"

"menurutmu, kenapa dia?"

"entahlah" jawab Louis acuh
"kau yang menyukainya, seharusnya kau yang tahu"

"kepada siapa dia sering bercerita?" aku menekan Louis balik.

"yang ia ceritakan selalu pada bagian bahagia"

"bagaimana kalau.." usulku agak ragu

"sebaiknya begitu"

Sedikit menarik nafas, aku bersiap. Hanya sedikit mental untuk kemudian menyapanya, selalu membuat bimbang.

"jangan takut" support Louis.

Satu langkah. Dua langkah. Tapi terlambat, gerimis mulai reda.
Lenvi keburu menatapku yang sudah tidak tertutup pepohonan lagi. Tatapan yang sangat tajam. Tajam sekali.

---------

Posted by
Ranggi Suginda

More

hujan #2

Pos jaga 3. Pantai tok'awo. Mentawai
21.38

"hujan"

"seperti biasanya"

"huh!" Louis menggerutu.

"kemana saja kau hari ini?" pertanyaan basa-basi sebenarnya.

"seperti biasa"

"ketempat rahasiamu itu?" terkaku.
"terkadang aku berpikir"

"apa?"

"dimana?"

"suatu tempat" begitu jawabannya. Persis seperti beberapa hari yang lalu saat aku tanyakan hal yang sama.
Aku tidak berminat lagi membahasnya. Dua cangkir kopi rasanya tak cukup untuk menemani malam ini. Untung Louis ada disini. Padahal ini bukan giliran jaga nya.

"aku lihat seharian tadi kau bersama Lenvi?" Louis membuka topik.

"ya"

"apa yang kalian bicarakan?"

"tidak banyak. Ia sangat tertutup padaku. Sikapnya dingin"

"dia sedang banyak masalah" jelas Louis seolah ingin menjawab semua pertanyaan yang berputar di otak ku.

"bagaimana?" tanyaku curiga.

"dia yang cerita"

"what? Lenvi tak pernah terbuka padaku"

"itu karena kau memilih jam malam untuk berjaga di pos ini"

"jadi kalian sering bicara satu sama lain?"

"ya. Hampir setiap malam. Saat kau sedang sibuk berjaga-jaga. Di temani kopi ini" ujarnya sambil meneguk kopi yang mulai dingin.

"Tapi kau sudah punya.."

"Resti? Dia terlalu kekanak-kanakan. Berbeda dengan Lenvi. Lenvi itu.."

"mempesona, dan mandiri." sambungku.

"juga sangat manis" Louis meng-iyakan.

Ah. Aku menyesal memilih giliran malam untuk menjaga pos. Walau awalnya tujuanku sudah sangat jelas. Agar aku punya banyak waktu untuk bercengkrama dengan Lenvi di siang hari. Tahunya, Lenvi lebih mudah di ajak bicara pada malamnya.

"sepertinya Lenvi menyukaiku" ungkap Louis sedikit sombong.

"begitu? Kenapa?" aku mulai panas

"entahlah. Sepertinya aku akan segera mengakhiri hubungan dengan Resti. Dan berdua dengan Lenvi. ah betapa bahagianya"

"jangan!!!" cegatku dengan nada agak keras. Beberapa relawan lain yang juga berjaga sempat melirik ke arah kami. "ka..kasihan resti"

Louis tidak menjawab. Debur ombak menjadi penghias kebisuan kami.
Aku yakin perkataanku hanya di anggap angin lalu oleh Louis. Shit! Kau begitu beruntung mendapatkan Resti. Sekarang Lenvi.
Oh tuhan. Tentu saja. Lihat Louis. Dia punya segalanya. Pintar. Kaya. Walau tak lebih tampan dariku. Setidaknya ia punya beberapa hal yang wanita inginkan.

"kau menyukai Lenvi" ucapan Louis bagaikan petir. Ia membaca isi hatiku. Aku belum berani menjawab. Masih membiarkan suara ombak mengisi malam itu.

--------


Memang sulit jika tidak tahu pada awalnya. Aku mungkin telah kalah jauh. Telak. Tertinggal oleh Louis yang semakin dekat dengan Lenvi.

Kadang terbesit untuk menyerah. Tapi Lenvi, ia membuatku seolah punya arti. Memang begitulah cinta.

Ombak mentawai malam ini cukup tenang, walau lagi-lagi hujan menghambat bintang menerangi langit.

"ombak yang bagus" sebuah suara mengejutkanku. tidak terlalu asing di telingaku.

"pak yahya? Apa yang.."

"aku biasa disini. Memancing. Ikan-ikan suka laut yang tenang" jawab pak yahya memperlihatkan kotak peralatan pancingnya.
"dan kau?"

"suntuk pak. Sedang ingin menikmati malam"

"hujan-hujan begini?"

"sayangnya hujan selalu turun saat malam"

"hahaha. Unik sekali"

"terima kasih" aku tersenyum.

"bagaimana keadaanya?"

"siapa?"

"ngg.. Aku lupa nama gadis itu"

"Lenvi? Cukup baik pak" ah agak sungkan rasanya membicarakan tentang Lenvi bersama pak Yahya.

"Cukup baik? Bukannya sangat baik?"

"maksud bapak?"

"ya. Ia terlihat sangat baik. ia terlihat begitu bahagia disana" ujar pak Yahya menunjuk ke arah barak pengungsian.

"bahagia? Ah ia pasti bersama Louis" lagi. Aku mulai panas.

"entahlah aku tidak begitu mengingat nama-nama relawan yang ada disini"

Pak Yahya mulai terlihat sibuk memasang umpan. Cekatan sekali. Pantas saja ia dapat bertahan tanpa bantuan. Aku yakin ia begitu cekatan menangkap ikan sekedar untuk mengganjal perut.

Sedangkan aku, masih saja menatap ke arah laut lepas. Ingin refleksi, mendengar suara alam. Tapi malam ini begitu sunyi. Walau hujan, rintiknya pun seolah ikut membisu. Hanya sekali-sekali suara helikopter pembawa bantuan lalu lalang di atas kami.

"pak. menurut bapak, apa definisi sahabat?"

"sahabat?"

"ya" jawabku pendek. Pak Yahya tidak langsung menjawab. Ia masih menatap umpan yang mulai ditarik.

"apa kau pernah melihat mata kail?"

"ya. Pernah. Walau aku tak begitu suka memancing"

"mata kail. punya sisi yang runcing, ada juga yang tidak. tidak masalah jika kau menyentuh sisi yang mana. Tapi sekali kau terkena bagian runcing.." perkataannya agak terhenti. Tarikan di umpan makin kuat. Pak Yahya mengambil aba-aba. Menarik ulur pancingan. Dan..
"kau akan sulit terlepas" sambung Pak Yahya bersamaan dengan ditariknya ikan berukuran sedang dari permukaan air.

"sulit terlepas? Sisi runcing?"

"ya. Seperti ikan ini. Kau akan menggelepar. Lalu mati"

Sedikit sulit menganalisa ucapan pak Yahya. Entah makna konotasi atau denotasi yang coba ia ungkapkan. Aku melirik kepada ikan yang mulai lemas kehabisan udara.

"ah aku mengerti!!"

"benarkah?"

"ya tentu saja. Lenvi telah terkena sisi runcing dari Louis. Maksudnya, Lenvi belum tahu sisi buruk Louis. Tinggal memperlihatkan sisi itu. Maka Louis sama dengan nol" jawabku yakin.

"kau salah mengerti nak"

"salah mengerti? Lalu apa?" tanyaku merasa tidak terima. Pak Yahya lagi-lagi tak langsung menjawab.
"apa pak?" desakku.

Pak Yahya masih diam, matanya tak pernah memandang ke arahku. Mulutnya sibuk bersiul. Tembang lawas dari Mentawai.

---------

Posted by
Ranggi Suginda

More

Hujan #1

hujan. Ada yg menyebutnya sebagai rahmat. Tapi terkadang tak begitu baik saat kau tidak membutuhkannya.

"shit! Dingin banget" ujar Louis memecah kebisuan.
"apa selalu sedingin ini saat hujan?" tanyanya kepada pak yahya.

"tidak jika kau sudah terbiasa"

"kenapa bapak tidak pindah saja ketempat yang lebih aman? Seperti pengungsi yang lain?" tanyaku.

"karena..."

"haa aku tahu alasannya" ujar Louis memotong.
"seperti orang-orang tua lainnya, kau pasti punya semacam falsafah yang membuatmu tetap bertahan disini?"

"tidak semuluk itu" ujarnya tenang. Tetap menatap sebatang lilin yang lama-kelamaan mulai habis.
"aku hanya tidak punya tempat lain"
Louis mendadak melirik.
"ini rumahku" sambung pak tua itu lagi.

"seandainya, ada tsunami lagi. Mayatmu dipastikan tidak ditemukan jika kau tetap disini"
Aku tertegun. Dan langsung menatap tajam kepada Louis. Ah sungguh. Aku mulai tidak menyukai caranya bertanya.

"aku sudah tidak punya kelluarga lagi"

"tidak.. Kau masih.." mendadak perkataan Louis terhenti. Sepertinya ia paham makna tatapanku.

Malam itu hujan masih turun dengan lebatnya. tiga hari pasca tsunami, mentawai memang belum tersiram cahaya matahari.

Lenvi masih saja terbaring lemah di sudut rumah. Selimut yang membungkus tubuhnya sedikit tersingkap.

"bagaimana keadaan gadis itu?" tanya pak Yahya.

"entahlah. Tubuhnya masih panas" jawabku membetulkan letak selimut Lenvi.

Sejak tadi sore memang kondisi Lenvi kurang baik. Suhu tubuhnya tinggi.

"sudah waktunya sholat isya" ujar pak Yahya tiba-tiba bangkit.

"hey?"

"kebiasaan" jelas Louis singkat.

"apa?"

"ya. Tanpa jam, tanpa Adzan, orang yang biasa melakukan sholat isya pasti tahu kapan waktu sholat masuk" sambungnya berwibawa.

"sok tahu" sinisku. Tawa pak Yahya pecah.

--------





Tok'awo. Mentawai
06.46.

Pagi itu tenda pengungsian sudah mulai terlihat lengang. Pengungsi pria telah pergi ke hutan. Mencari umbi-umbian yang bisa dimakan. Sedangkan para wanita telah sibuk memasak makanan di barak pusat.
Hujan masih turun, setelah tadi shubuh sempat reda, hanya sebentar.
Louis sudah tidak ada lagi di sampingku. Pasti ia telah pergi ketempat persembunyiannya. Setiap pagi selalu itu yang ia lakukan. Entah dimana dan entah apa yang dilakukannya di sana.

Sementara Lenvi. Ah pasti ia ada di barak utama. Bersama ibu-ibu yang lain.
Kususuri jalan setapak di utara pengungsian, satu-satunya jalan yang menghubungkan pengungsian tok'awa dengan barak utama.
Jalan itu licin, penuh lumpur. Beberapa anak tampak bermain-main dengan itu. Tiga laki-laki, dan satu perempuan. Yang perempuan berpayung daun pisang. Ia tak ikut mengacak-acak genangan.
Matanya sayu. Dan.. Ah apakah dia menatapku? Dibibrnya tersungging senyuman kecil.
Aku membalas tersenyum, tapi tak ada perubahan dari air muka nya.
Apa dia.. Buta?

*

"Vi, istirahatlah" saranku kepada Lenvi.

Ia tak menjawab. Tangannya masih sibuk dengan bumbu dapur.

"kau tidak boleh terlalu memaksakan diri"

"aku baik-baik saja Ren"

"tapi.."

"sebentar lagi jam Sarapan. Bantu aku membawa masakan ini, mereka pasti sudah lapar" potongnya tanpa menoleh.

"Vi.."

"please Ren"

Ah tatapan itu lagi. Lembut, dan menggoda.
"Baiklah" anggukku mengalah.
Jujur saja, aku tidak tahan melihat tatapan itu. Tatapan dari mata yang selalu terlihat sedih. Tapi bercahaya.

Tiba-tiba dua orang pria menghampiri kami.
Dua-duanya pemuda minang. Dari pakaian mereka terlihat mereka adalah pengungsi.
"bilo wak makan pagi ko da?"

Ah bahasa Minang. Jujur saja aku tidak begitu mengerti apa yang mereka ucapkan.

"ngg.. I..iya" jawabku sekenanya.

"iyo iyo apo ko ha? Lah gilo ang yuang?" nadanya agak keras. temannya malah tertawa cekikikan.

"untuk kejelasannya mungkin bisa abang tanyakan pada petugas sana" elakku. Paling tidak agar mereka segera bertanya pada orang yang lebih mengerti.

Tidak berapa lama mereka tertawa terbahak-bahak.
Bahkan Lenvi, ada senyuman kecil disudut bibirnya.

"kenapa?" tanyaku polos.
Lenvi tak menjawab. Mungkin masih berusaha menahan tawa.
"apa aku salah bicara?"

"entahlah" jawabnya pendek. "mungkin saja" sambungnya sambil melirik pemuda-pemuda tadi yang berjalan menjauh sambil menggesek-gesekan telunjuk pada dahi mereka.

"aku sinting? Hey!!" gerutuku. Tawa Lenvi semakin lebar.
Ah sial. Aku benar-benar merasa bodoh hari ini.
Tapi, ada kebahagiaan tersendiri melihat Lenvi tertawa. Yaa walaupun harus sedikit mengorbankan harga diri. Namun, cukup memuaskan.

--------

Posted by
Ranggi Suginda

More

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © / pasir memang tidak selembut yang mereka bilang

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger