hujan #2

Pos jaga 3. Pantai tok'awo. Mentawai
21.38

"hujan"

"seperti biasanya"

"huh!" Louis menggerutu.

"kemana saja kau hari ini?" pertanyaan basa-basi sebenarnya.

"seperti biasa"

"ketempat rahasiamu itu?" terkaku.
"terkadang aku berpikir"

"apa?"

"dimana?"

"suatu tempat" begitu jawabannya. Persis seperti beberapa hari yang lalu saat aku tanyakan hal yang sama.
Aku tidak berminat lagi membahasnya. Dua cangkir kopi rasanya tak cukup untuk menemani malam ini. Untung Louis ada disini. Padahal ini bukan giliran jaga nya.

"aku lihat seharian tadi kau bersama Lenvi?" Louis membuka topik.

"ya"

"apa yang kalian bicarakan?"

"tidak banyak. Ia sangat tertutup padaku. Sikapnya dingin"

"dia sedang banyak masalah" jelas Louis seolah ingin menjawab semua pertanyaan yang berputar di otak ku.

"bagaimana?" tanyaku curiga.

"dia yang cerita"

"what? Lenvi tak pernah terbuka padaku"

"itu karena kau memilih jam malam untuk berjaga di pos ini"

"jadi kalian sering bicara satu sama lain?"

"ya. Hampir setiap malam. Saat kau sedang sibuk berjaga-jaga. Di temani kopi ini" ujarnya sambil meneguk kopi yang mulai dingin.

"Tapi kau sudah punya.."

"Resti? Dia terlalu kekanak-kanakan. Berbeda dengan Lenvi. Lenvi itu.."

"mempesona, dan mandiri." sambungku.

"juga sangat manis" Louis meng-iyakan.

Ah. Aku menyesal memilih giliran malam untuk menjaga pos. Walau awalnya tujuanku sudah sangat jelas. Agar aku punya banyak waktu untuk bercengkrama dengan Lenvi di siang hari. Tahunya, Lenvi lebih mudah di ajak bicara pada malamnya.

"sepertinya Lenvi menyukaiku" ungkap Louis sedikit sombong.

"begitu? Kenapa?" aku mulai panas

"entahlah. Sepertinya aku akan segera mengakhiri hubungan dengan Resti. Dan berdua dengan Lenvi. ah betapa bahagianya"

"jangan!!!" cegatku dengan nada agak keras. Beberapa relawan lain yang juga berjaga sempat melirik ke arah kami. "ka..kasihan resti"

Louis tidak menjawab. Debur ombak menjadi penghias kebisuan kami.
Aku yakin perkataanku hanya di anggap angin lalu oleh Louis. Shit! Kau begitu beruntung mendapatkan Resti. Sekarang Lenvi.
Oh tuhan. Tentu saja. Lihat Louis. Dia punya segalanya. Pintar. Kaya. Walau tak lebih tampan dariku. Setidaknya ia punya beberapa hal yang wanita inginkan.

"kau menyukai Lenvi" ucapan Louis bagaikan petir. Ia membaca isi hatiku. Aku belum berani menjawab. Masih membiarkan suara ombak mengisi malam itu.

--------


Memang sulit jika tidak tahu pada awalnya. Aku mungkin telah kalah jauh. Telak. Tertinggal oleh Louis yang semakin dekat dengan Lenvi.

Kadang terbesit untuk menyerah. Tapi Lenvi, ia membuatku seolah punya arti. Memang begitulah cinta.

Ombak mentawai malam ini cukup tenang, walau lagi-lagi hujan menghambat bintang menerangi langit.

"ombak yang bagus" sebuah suara mengejutkanku. tidak terlalu asing di telingaku.

"pak yahya? Apa yang.."

"aku biasa disini. Memancing. Ikan-ikan suka laut yang tenang" jawab pak yahya memperlihatkan kotak peralatan pancingnya.
"dan kau?"

"suntuk pak. Sedang ingin menikmati malam"

"hujan-hujan begini?"

"sayangnya hujan selalu turun saat malam"

"hahaha. Unik sekali"

"terima kasih" aku tersenyum.

"bagaimana keadaanya?"

"siapa?"

"ngg.. Aku lupa nama gadis itu"

"Lenvi? Cukup baik pak" ah agak sungkan rasanya membicarakan tentang Lenvi bersama pak Yahya.

"Cukup baik? Bukannya sangat baik?"

"maksud bapak?"

"ya. Ia terlihat sangat baik. ia terlihat begitu bahagia disana" ujar pak Yahya menunjuk ke arah barak pengungsian.

"bahagia? Ah ia pasti bersama Louis" lagi. Aku mulai panas.

"entahlah aku tidak begitu mengingat nama-nama relawan yang ada disini"

Pak Yahya mulai terlihat sibuk memasang umpan. Cekatan sekali. Pantas saja ia dapat bertahan tanpa bantuan. Aku yakin ia begitu cekatan menangkap ikan sekedar untuk mengganjal perut.

Sedangkan aku, masih saja menatap ke arah laut lepas. Ingin refleksi, mendengar suara alam. Tapi malam ini begitu sunyi. Walau hujan, rintiknya pun seolah ikut membisu. Hanya sekali-sekali suara helikopter pembawa bantuan lalu lalang di atas kami.

"pak. menurut bapak, apa definisi sahabat?"

"sahabat?"

"ya" jawabku pendek. Pak Yahya tidak langsung menjawab. Ia masih menatap umpan yang mulai ditarik.

"apa kau pernah melihat mata kail?"

"ya. Pernah. Walau aku tak begitu suka memancing"

"mata kail. punya sisi yang runcing, ada juga yang tidak. tidak masalah jika kau menyentuh sisi yang mana. Tapi sekali kau terkena bagian runcing.." perkataannya agak terhenti. Tarikan di umpan makin kuat. Pak Yahya mengambil aba-aba. Menarik ulur pancingan. Dan..
"kau akan sulit terlepas" sambung Pak Yahya bersamaan dengan ditariknya ikan berukuran sedang dari permukaan air.

"sulit terlepas? Sisi runcing?"

"ya. Seperti ikan ini. Kau akan menggelepar. Lalu mati"

Sedikit sulit menganalisa ucapan pak Yahya. Entah makna konotasi atau denotasi yang coba ia ungkapkan. Aku melirik kepada ikan yang mulai lemas kehabisan udara.

"ah aku mengerti!!"

"benarkah?"

"ya tentu saja. Lenvi telah terkena sisi runcing dari Louis. Maksudnya, Lenvi belum tahu sisi buruk Louis. Tinggal memperlihatkan sisi itu. Maka Louis sama dengan nol" jawabku yakin.

"kau salah mengerti nak"

"salah mengerti? Lalu apa?" tanyaku merasa tidak terima. Pak Yahya lagi-lagi tak langsung menjawab.
"apa pak?" desakku.

Pak Yahya masih diam, matanya tak pernah memandang ke arahku. Mulutnya sibuk bersiul. Tembang lawas dari Mentawai.

---------

0 komentar:

Posting Komentar

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © / pasir memang tidak selembut yang mereka bilang

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger