Hujan #3

Tok'awo, Mentawai
06.12

Samar-samar mulai terdengar keramaian. Ah pagi. Kutatap jam di lenganku. Jam 6.
Louis?!! Ah sial. Hujan pun dia akan tetap menghilang ke tempat rahasianya.
Rencanaku sepertinya tidak bisa berjalan sekarang. Simpel saja, firasatku bilang, setiap pagi pasti Louis bertandang ke barak pengungsian seberang, menggoda gadis-gadis yang ada di sana. Huh dasar playboy. Pantas saja ia tidak mau memberitahu dimana tempat rahasianya.
Sedikit malas, aku mulai bergerak menuju luar tenda, tanah agak becek. Sepertinya hujan turun dari tadi malam.

Gemercik hujan yang di tampung dengan ember kecil menjadi salah satu persedian air bersih kami.
Ah itu Louis!
Kurang jelas memang, tapi aku tahu itu Louis yang sedang mengendap-endap masuk ke dalam barak penyimpanan bahan makanan.
tentu saja, aku akan memperlihatkan ini pada Lenvi. Dan.. Louis akan kalah telak.

Sebelum niatan itu sempat terealisasi, Kuurungkan langkahku.
Pasti masih ada keburukan Louis yang bisa kudapat hari ini. Terlebih aku masih penasaran dengan tempat rahasianya.
aku mengendap-endap di balik pepohonan yang untungnya lumayan rimbun. Sedapat mungkin menjaga jarak agar Louis tidak merasakan kehadiranku.

Lumayan jauh. Sepengetahuanku jalanan ini mengarah ke barat. Ke tempat yang paling parah terkena tsunami, yang sekaligus menjadi tempat dimana paling banyak pengungsi perempuannya. Setidaknya itu yang kudengar.

Ah Louis berhenti. Masuk ke dalam rimbunan semak belukar yang menutupi garis pantai sejauh beberapa kilometer.
aku berdiam beberapa menit. Menunggu saat yang pas untuk menangkap basah Louis. Kamera handphone, kurasa cukup untuk mencetak bukti-bukti kongkret yang akan mendakwa Louis.
Dari jauh sedikit kudengar nafas seseorang. Terengah.
ah lelaki kurang ajar! Aku menyeruak masuk.
"DASAR PRIA BRENGS....." belum sempat aku menghujat.

"hey apa yang kau lakukan disana? Menonton aku yang sedang kesusahan?" Dongkol Louis yang menyadari kehadiranku. dengan nafas sedikit tersenggal.

"Louis.. Apa yang kau lakukan dengan... Sapi?" tanyaku heran.

"sapi ini.. Uhh tidak mau di ikat" jawabnya sambil melempar sebuah tali ke arahku. "bantu aku menariknya"

*

Hujan masih belum berhenti. Tidak selebat tadi memang. binatang besar itu sudah sedikit tenang setelah kakinya diikatkan pada sebuah pohon besar yang masih berdiri kokoh.

"apa yang kau lakukan dengan sapi itu Louis?"

"aku menemukannya saat kita sibuk mencari korban hilang dua minggu lalu" jawabnya sambil sedikit mengusap punggung si sapi. "saat itu keadaannya lemah"

"lalu?"

"aku memberinya susu"

"kau menyusui seekor sapi?" dahiku berkerut.

"tentu saja tidak, bodoh"

"jangan bilang kau menyuruh seorang pengungsi wanita untuk menyusukan sapi ini?"

"aku memberinya susu kaleng"

"susu kaleng?" dahiku makin berkerut.

"ya. Dan lihat betapa lincahnya dia sekarang" Louis tersenyum.

"Jadi ini yang kau...?"

"yah kalau sudah ketahuan mau bagaimana. Inilah tempat rahasiaku. Setiap hari aku disini. Memberikan susu pada tomo" jawabnya menyebut nama yang ia berikan pada sapi itu.

"tapi.. Aku pikir kau.." shit. Ada perasaan bersalah disini.

"kau pikir aku apa?" tatap Louis menusuk.

"bukan begitu. Maksudku. Aku melihatmu menghilang setiap pagi. Dan aku mendapatimu mengendap-endap kedalam barak makanan" jawabku memberi penjelasan.

"hahaha" Louis tertawa lebar. "petugas-petugas itu tidak akan membiarkanku memberi minum pada seekor sapi"


Ya tuhan. Hukum aku. apa yang telah kulakukan? Mencurigai Louis?
Hey sudah berapa lama aku mengenal Louis? Umpatku lebih pada diri sendiri.
Aku hanya bisa terdiam. Takut untuk berbicara. Takut jika Louis tahu bahwa selama ini aku telah berprasanka buruk padanya.
Aku hanya duduk diam, mengarah ke pantai. Bisu. Memandangi ombak.

"kulihat akhir-akhir ini kau suka memperhatikan laut" Louis duduk tepat disebelahku. "rasanya tidak mungkin ya. Laut ini yang telah meluluhlantakan semua"

"Louis"

"ya?"

"pak Yahya mengatakan sesuatu padaku."

"oh ya? Apa katanya?"

"sahabat itu seperti mata kail. punya sisi yang runcing, tajam, dan bisa menusuk ikan kapan saja. Lalu ada sisi lain, yang sama sekali tidak berbahaya"

"begitukah? Hmm kalau begitu aku adalah sisi yang tajam" tutur Louis. "dan kau sisi yang satu lagi" sambungnya melirik ke arahku.

"lalu siapa yang jadi ikannya?" aku membalas tatapan Louis.

"entahlah. Mungkin Lenvi. Lihatlah bagaimana aku berhasil memancingnya" jawabnya agak tertawa geli.

"kurasa bukan begitu" aku melengos. Lagi-lagi ke arah laut. "kau adalah sisi yang tidak berbahaya. Aku sisi yang tajam"

"lalu siapa yang jadi ikannya?" Louis meniru pertanyaanku.

"belum ada. Aku hanya sebuah kail yang sampai saat ini belum berhasil mendapatkan ikannya. Bahkan aku sudah terlalu berkarat"

"Reno. Kau hanya sedang berapa di arus yang deras. Terkadang ikan tidak suka itu" Louis menepuk pundakku.

"terima kasih Louis"

"sudahlah, jika kau ingin berterima kasih, bantu aku membawa sapi ini kerumah pak Yahya" pinta Louis.

"buat apa?"

"hey apa kau lupa. Sebentar lagi hari raya qurban. pak Yahya pasti akan senang mendapat sapi ini"

"jadi.. Selama ini kau merawat sapi itu agar pak Yahya bisa menikmati hari raya qurban"

Ia tidak menjawab. Sudah terlalu sibuk dengan sapinya. Dia kelihatan begitu bahagia. Apa yang dibayangkannya? Tentu saja ia sedang membayangkan bagaimana girangnya pak Yahya menerima sapi ini.

"ayo" teriaknya padaku.

"eh,, iya." aku berlari. Sedapat mungkin membantu Louis. Sahabatku. Benar. Dia sahabatku. Aku tersenyum saat Louis memperhatikan gerak-gerikku.

"apa yang kau tertawakan?" kali ini dahinya yang berkerut.

"tidak. Hanya saja.. Ah lupakan"

"kau semakin aneh. Oh iya. Tadi malam aku sempat bilang pada Lenvi, kalau kau ingin bicara dengannya malam ini"

"hey. Tapi malam ini aku ada tugas jaga"

"sudahlah. Jangan kecewakan dia, kau tidak ingin melepas ikan yang mendekati mata kailmu bukan?" Louis terus menggoda. Benar, dia tahu bahwa aku menyukai Lenvi. Aku mulai menarik tali yang terikat pada leher sapi. Sesaat sebelumnya ku sempatkan diriku melihat jauh ke laut yang semakin indah. Tentu saja, karena Langit yang juga mulai cerah.

------


Labuah dalam. Mentawai
11.48

lama hujan tak turun di Mentawai. Sekarang pun hanya gerimis kecil, namun ku sempatkan menulis agar aku dapat mengabarkan sesuatu pada kalian.

Tahukah? Beberapa hari yang lalu aku akhirnya bisa bercerita panjang lebar dengan Lenvi. Sungguh membahagiakan.
Ingin aku bercerita bagaimana menariknya Lenvi saat berbicara.
Namun, ada hal yang lebih penting sekarang.

Ya. Hari ini, idul adha.
Aku, Louis, Pak Yahya, dan beberapa penduduk lain telah selesai melaksanakan sholat id beberapa jam yang lalu. Sebagian akan melaksanakan besok.
Lebaran yang tidak meriah memang. Terlebih kita sama-sama mengetahui bahwa penduduk mentawai memang mayoritas non-Muslim.
Tapi tak apa. Ada kebahagiaan lebih saat kami merayakan bersama. Bukan karena jauh dr keluarga, tetapi justru karena kami mendapat keluarga baru.

Sapi kecil yang kami -tepatnya Louis- pelihara sejak beberapa minggu lalu, telah disiapkan untuk menjadi sapi qurban. Hanya satu sapi dan satu kambing pemberian warga. Tidak banyak, tapi rasanya cukup mengingat jumlah kami yang juga tak begitu banyak.

"mana Lenvi?" tanya Louis mengejutkanku.

"entahlah, dia bilang ingin ke barak utama"
"ada apa?" sambungku.

"hey jangan mencurigaiku begitu" Louis sinis

"bukan, maksudku apa perlu aku panggilkan?" memang bukan maksudku untuk mencurigainya.

"aku hanya ingin dia menyiapkan beberapa peralatan karena sebentar lagi kita akan memotong qurban"

"baik, aku panggilkan"

Bukan tugas berat. Lapangan Labuah dalam memang tidak terlalu jauh dari barak utama, terlebih untuk memanggil Lenvi.

Belum jauh aku berjalan, aku melihat sesuatu dari celah pepohonan yang menutupi jalan.
"hey?!" aku cukup tertegun setelah yakin bahwa, "itu Lenvi".

Tidak ingin mengganggu tentunya, aku sedikit beringsut menuju pohon yang cukup besar. Menyembunyikan Tubuhku, dan sekaligus mengintip apa yang dilakukan Lenvi.

namun, ia hanya diam, tangannya terlihat dilingkarkan ke dada. Mengepal.
Ingin aku menghampiri, tetapi sepercik air mata membuatku ragu. apa yang ia tangiskan?

"hampiri saja" sebuah suara berkelebat kencang di balik daun telingaku.

"Louis, kenapa kau mengikutiku?"

"hey kau tidak kembali untuk waktu yang cukup lama. Wajar saja aku menyusul"

"menurutmu, kenapa dia?"

"entahlah" jawab Louis acuh
"kau yang menyukainya, seharusnya kau yang tahu"

"kepada siapa dia sering bercerita?" aku menekan Louis balik.

"yang ia ceritakan selalu pada bagian bahagia"

"bagaimana kalau.." usulku agak ragu

"sebaiknya begitu"

Sedikit menarik nafas, aku bersiap. Hanya sedikit mental untuk kemudian menyapanya, selalu membuat bimbang.

"jangan takut" support Louis.

Satu langkah. Dua langkah. Tapi terlambat, gerimis mulai reda.
Lenvi keburu menatapku yang sudah tidak tertutup pepohonan lagi. Tatapan yang sangat tajam. Tajam sekali.

---------

0 komentar:

Posting Komentar

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © / pasir memang tidak selembut yang mereka bilang

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger