hujan. Ada yg menyebutnya sebagai rahmat. Tapi terkadang tak begitu baik saat kau tidak membutuhkannya.
"shit! Dingin banget" ujar Louis memecah kebisuan.
"apa selalu sedingin ini saat hujan?" tanyanya kepada pak yahya.
"tidak jika kau sudah terbiasa"
"kenapa bapak tidak pindah saja ketempat yang lebih aman? Seperti pengungsi yang lain?" tanyaku.
"karena..."
"haa aku tahu alasannya" ujar Louis memotong.
"seperti orang-orang tua lainnya, kau pasti punya semacam falsafah yang membuatmu tetap bertahan disini?"
"tidak semuluk itu" ujarnya tenang. Tetap menatap sebatang lilin yang lama-kelamaan mulai habis.
"aku hanya tidak punya tempat lain"
Louis mendadak melirik.
"ini rumahku" sambung pak tua itu lagi.
"seandainya, ada tsunami lagi. Mayatmu dipastikan tidak ditemukan jika kau tetap disini"
Aku tertegun. Dan langsung menatap tajam kepada Louis. Ah sungguh. Aku mulai tidak menyukai caranya bertanya.
"aku sudah tidak punya kelluarga lagi"
"tidak.. Kau masih.." mendadak perkataan Louis terhenti. Sepertinya ia paham makna tatapanku.
Malam itu hujan masih turun dengan lebatnya. tiga hari pasca tsunami, mentawai memang belum tersiram cahaya matahari.
Lenvi masih saja terbaring lemah di sudut rumah. Selimut yang membungkus tubuhnya sedikit tersingkap.
"bagaimana keadaan gadis itu?" tanya pak Yahya.
"entahlah. Tubuhnya masih panas" jawabku membetulkan letak selimut Lenvi.
Sejak tadi sore memang kondisi Lenvi kurang baik. Suhu tubuhnya tinggi.
"sudah waktunya sholat isya" ujar pak Yahya tiba-tiba bangkit.
"hey?"
"kebiasaan" jelas Louis singkat.
"apa?"
"ya. Tanpa jam, tanpa Adzan, orang yang biasa melakukan sholat isya pasti tahu kapan waktu sholat masuk" sambungnya berwibawa.
"sok tahu" sinisku. Tawa pak Yahya pecah.
--------
Tok'awo. Mentawai
06.46.
Pagi itu tenda pengungsian sudah mulai terlihat lengang. Pengungsi pria telah pergi ke hutan. Mencari umbi-umbian yang bisa dimakan. Sedangkan para wanita telah sibuk memasak makanan di barak pusat.
Hujan masih turun, setelah tadi shubuh sempat reda, hanya sebentar.
Louis sudah tidak ada lagi di sampingku. Pasti ia telah pergi ketempat persembunyiannya. Setiap pagi selalu itu yang ia lakukan. Entah dimana dan entah apa yang dilakukannya di sana.
Sementara Lenvi. Ah pasti ia ada di barak utama. Bersama ibu-ibu yang lain.
Kususuri jalan setapak di utara pengungsian, satu-satunya jalan yang menghubungkan pengungsian tok'awa dengan barak utama.
Jalan itu licin, penuh lumpur. Beberapa anak tampak bermain-main dengan itu. Tiga laki-laki, dan satu perempuan. Yang perempuan berpayung daun pisang. Ia tak ikut mengacak-acak genangan.
Matanya sayu. Dan.. Ah apakah dia menatapku? Dibibrnya tersungging senyuman kecil.
Aku membalas tersenyum, tapi tak ada perubahan dari air muka nya.
Apa dia.. Buta?
*
"Vi, istirahatlah" saranku kepada Lenvi.
Ia tak menjawab. Tangannya masih sibuk dengan bumbu dapur.
"kau tidak boleh terlalu memaksakan diri"
"aku baik-baik saja Ren"
"tapi.."
"sebentar lagi jam Sarapan. Bantu aku membawa masakan ini, mereka pasti sudah lapar" potongnya tanpa menoleh.
"Vi.."
"please Ren"
Ah tatapan itu lagi. Lembut, dan menggoda.
"Baiklah" anggukku mengalah.
Jujur saja, aku tidak tahan melihat tatapan itu. Tatapan dari mata yang selalu terlihat sedih. Tapi bercahaya.
Tiba-tiba dua orang pria menghampiri kami.
Dua-duanya pemuda minang. Dari pakaian mereka terlihat mereka adalah pengungsi.
"bilo wak makan pagi ko da?"
Ah bahasa Minang. Jujur saja aku tidak begitu mengerti apa yang mereka ucapkan.
"ngg.. I..iya" jawabku sekenanya.
"iyo iyo apo ko ha? Lah gilo ang yuang?" nadanya agak keras. temannya malah tertawa cekikikan.
"untuk kejelasannya mungkin bisa abang tanyakan pada petugas sana" elakku. Paling tidak agar mereka segera bertanya pada orang yang lebih mengerti.
Tidak berapa lama mereka tertawa terbahak-bahak.
Bahkan Lenvi, ada senyuman kecil disudut bibirnya.
"kenapa?" tanyaku polos.
Lenvi tak menjawab. Mungkin masih berusaha menahan tawa.
"apa aku salah bicara?"
"entahlah" jawabnya pendek. "mungkin saja" sambungnya sambil melirik pemuda-pemuda tadi yang berjalan menjauh sambil menggesek-gesekan telunjuk pada dahi mereka.
"aku sinting? Hey!!" gerutuku. Tawa Lenvi semakin lebar.
Ah sial. Aku benar-benar merasa bodoh hari ini.
Tapi, ada kebahagiaan tersendiri melihat Lenvi tertawa. Yaa walaupun harus sedikit mengorbankan harga diri. Namun, cukup memuaskan.
--------

0 komentar:
Posting Komentar