Buriai, Mentawai
16.48 WIB
Hujan itu turun dengan lebatnya, seolah ingin kembali melenyapkan mereka, melenyapkan hati-hati yang rapuh oleh air. Mengingatkanku pada hujan-hujan yang lalu. Ah Sangat deras sejak siang tadi.
Beberapa pemuka adat tampak sibuk di sekitar aula utama, seorang pawang juga asyik melontarkan mantranya sambil mengibaskan dedaunan yang entah apa namanya.
berdasarkan informasi yang kuterima, hari ini akan di laksanakan upacara 'Pangureikan'. Upacara khas mentawai yang tujuannya untuk menolak bala dan mengharapkan kebaikan dari 'Saukkuita'.
Saukkuita yang sejak lama telah menemani masyarakat Mentawai. Dikenal sebagai dewa penjaga.
Tapi, dimana Sang Saukkuita saat Ombak itu menerjang mentawai beberapa Minggu yang lalu.
sejak pagi para relawan memang telah di arahkan ke Buriai. sebuah kota kecil di pagai selatan yang bisa di bilang merupakan satu-satunya kota di Mentawai yang mengingatkanku pada kotaku. Jauh dari kesan pedalaman. Setidaknya jika dibandingkan dengan daerah lain.
"jangan berdiri disini, kau bisa mengganggu pria-pria tua itu" saran pak Yahya menunjuk pemuka agama yang sejak tadi melirik sinis padaku. "mereka mudah tersinggung".
"bapak sendiri kenapa disini?" tanyaku setelah agak menjauhkan diri dari aula beratap ijuk tersebut.
"sejak dulu aku memang di undang datang kesini" Jawabnya memperlihatkan sebuah undangan yang terbuat dari daun lebar yang diukir dengan tulisan-tulisan berwarna kelabu gelap. Sedikit membuatku kagum mengingat bagaimana mereka menggunakan daun sebagai pengganti kertas.
"dimana teman-temanmu?"
"entahlah, tadi aku pergi duluan"
"oh ya? Kenapa kau tidak pergi dengan gadis itu?"
"ngg.. Aku.."
"woy Yahya, apo kaba? Duduak siko ha" seorang pria tua tiba-tiba berteriak ke arah kami, sontak memotong perkataanku
"iyo, sabanta" jawab pak Yahya dengan logat Minangnya yang selalu membuat aku berdecak.
"ayo kita kesana" ajaknya lagi.
"tapi aku.."
"sudahlah tidak apa-apa" ucapannya meyakinkanku, memang pak Yahya sudah seperti ayah bagiku, selalu membuat nyaman. Walau pria-pria berkumis lebat itu masih memasang wajah garang padaku.
Kami berjalan pelan ke arah bapak yang memanggil tadi, aku berjalan lebih pelan di belakang pak Yahya. sedikit bergidik jika tahu nantinya aku akan berhadapan langsung dengan mereka. Di bayanganku, mereka akan menarikku, memotong jari-jariku, memenggal kepalaku, kemudian melemparnya kelaut. Walaupun sadar tentu hal itu tidak mungkin mereka lakukan.
"hahaha, apo kaba? Baa kok ndak nampak di tok'awo dulu?" tanya pria itu terlihat akrab.
"yo tu awak di rumah senyo" jawab pak Yahya tak kalah akrabnya. Walau tidak begitu mengerti, namun dari cara mereka berbincang aku yakin mereka teman lama.
"bajagoan jo rumah tu?" mendadak suasana menjadi serius.
selanjutnya percakapan mereka berlanjut tanpa ada yang ku mengerti sedikitpun, seolah menutup celah bagiku untuk menguping pembicaraan mereka.
"itu yang jadi sikerei kini" pria tua yang baru saja kuketahui bernama Abdul Majo itu menunjuk sosok di balik kerudung berwarna hijau tua.
"anak itu? Tapi itu kan padusi?" nada bicara pak Yahya agak berubah.
"itu yang dianjurkan angku hamid" hey aku mengerti kalimat ini. Merasa punya kesempatan untuk masuk dalam topik pembicaraan, langsung saja dengan sedikit berbisik aku bertanya pada Pak Yahya.
"di anjurkan apa pak?"
"anak itu yang di anjurkan untuk menjadi sikerei kali ini?"
"sikerei? Apa itu sikerei?"
"sikerei itu orang yang akan melakukan pengorbanan untuk dewa Saukkuita, nanti tubuhnya akan dirasuki roh Saukkuita" pria tua itu menjelaskan, rupanya ia mendengar pertanyaanku.
"lalu apa yang terjadi setelah ia dirasuki pak?" tanyaku penuh selidiki.
"tergantung Saukkuita, apakah tubuhnya akan di bawa, atau dibebaskan"
"dibawa?" tanyaku menekankan nada.
"mati" sambung Pak Yahya pendek. Tapi mampu mengunci mulutku untuk tidak bertanya lagi.
Aku menatap jauh pada sosok yang katanya akan di jadikan sikerei.
Entah kenapa seolah aku mengenal sosok di balik kerudung itu, walau wajahnya tertutup rapat dengan kain tipis yang juga berwarna hijau. Namun aku yakin dari balik sana ia juga tengah memandangku. Memandang dengan mata sayu nya, pandangan yang dulu pernah kuterima. Tapi dimana?
Ah kenapa aku begitu yakin ia melirik ke arahku?
"kau kenapa Reno?"
"ah tidak apa-apa pak" aku tergugup kedapatan sedikit bermenung.
"siapa nama calon sikerei itu pak?" tanyaku pada pak Majo.
"nama anak itu Reta"
"apa kau mengenalnya?" tanya pak Yahya lagi
"entahlah pak, namanya terdengar asing. Tapi sepertinya sejak tadi ia melihat ke arah kita"
"hahaha itu tidak mungkin" pak Majo reflek tertawa.
"dia buta" sambungnya.
"buta?" tertegun, aku spontan melirik ke arah sikerei yang sudah melepas kerudung yang menutupi wajahnya.
"itu anak buta yang pernah kulihat dulu"
---------

0 komentar:
Posting Komentar